Home » article » Pemberdayaan Perempuan untuk Perempuan

Pemberdayaan Perempuan untuk Perempuan

Pemberdayaan Perempuan untuk Perempuan

 

Sesi siang, sekitar pukul 12.00 WITA, merupakan sesi khusus perempuan yang mana pembicara dan semua pesertanya adalah perempuan, serta membahas tentang pemberdayaan perempuan. Dr. Gail mengawali diskusi dengan melemparkan pertanyaan “apakah yang dimaksud dengan pemberdayaan perempuan dan mengapa pemberdayaan perempuan penting”. Guru peserta berdiskusi dengan sesamanya lalu menyampaikan hasil diskusi secara bergantian. Dr. Gail lalu menjelaskan, saat ini ada dua kelemahan yang dimiliki oleh perempuan, pertama karena adanya aturan di beberapa Negara yang membatasi aktivitas perempuan, dan yang kedua adalah dampak sosial budaya yang agak sulit diubah.
Perempuan saat ini menduduki posisi yang paling rendah dari segi kesejahteraan dan penghargaan. Hal itulah yang membuat program GPFD melibatkan guru perempuan lebih besar. Kesempatan guru perempuan terlibat dalam kegiatan ELPSA dan kegiatan lainnya adalah isu yang ingin diangkat agar perempuan dan laki-laki bisa berjalan bersama demi satu tujuan.
Dr. Gail meminta seluruh peserta menuliskan refleksi diri saat sebelum mengikuti ELPSA, setelah mengikuti ELPSA, dan masa yang akan datang. Kemudian Ibu Sitti, Ibu Retno, dan Robyn Lowrie secara sukarela berbagi refleksi diri mereka. Suasana saat itu mendadak berubah menjadi penuh haru. Berikut ini ringkasan refleksi diri yang berhasil membuat seisi ruangan meneteskan air mata.

Refleksi diri Dr. Sitti Maesuri Patahuddin:
Saya melihat banyak pandangan negative terhadap perempuan. Saya sendiri dulunya hanya bercita-cita menjadi guru sambil menjadi ibu rumah tangga. Tidak ada dalam pikiran saya bahwa saya akan berbagi kepada perempuan lain dari lubuk hati. Saya hanya akan melaksanakan proyek GPFD, itu saja. Setelah mengikuti ELPSA, saya merasakan perempuan punya keunikan, seperti komitmen, kerja keras, dan tidak kenal lelah. Perempuan sanggup untuk melakukan itu. Saya akhirnya melihat pentingnya keterlibatan perempuan dalam proyek ini. Saya kemudian berpikir bangsa Indonesia ini akan hancur jika perempuan tidak diberdayakan. Jika ingin memperbaiki pembelajaran matematika maka kita harus memberdayakan guru perempuan.

Refleksi diri Retno Purwanti, S.Pd.:
Sebelum mengikuti ELPSA, saya sangat pendiam dan tidak percaya diri. Apabila ada pelatihan guru, saya biasanya hanya diam duduk mendengarkan, tidak pernah menyampaikan pendapat. Setelah mengikuti pelatihan ELPSA, saya bisa dan berani menyampaikan pendapat karena pendapat saya selalu dihargai walaupun salah. Saya menjadi terbuka terhadap kritik dan saran tentang cara saya mengajar. Di masa mendatang saya berharap anak dan siswa saya, generasi selanjutnya lebih bagus lagi.

Refleksi diri Robyn Lowrie:
Sebelumnya, saya sangat percaya diri, saya datang ke Indonesia sebagai seorang guru ahli. Banyak pengalaman mengajar saya yang bisa saya bagikan. Setelah mengikuti kegiatan ELPSA, saya banyak belajar dari guru-guru. Saya melihat guru ELPSA sangat terbuka dengan perubahan padahal orang Australia banyak yang tidak suka dengan perubahan. Saya begitu senang melihat para guru percaya diri dan saya punya banyak teman disini. Saya berharap, saat kembali ke Indonesia suatu hari nanti, saya melihat ELPSA ada di banyak sekolah dan matematika menjadi pelajaran yang menarik bagi semua siswa.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi perempuan lainnya. (Ratna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>