Home » article » Membangun ‘Gedung Indah’ Pembelajaran Matematika di NTB

Membangun ‘Gedung Indah’ Pembelajaran Matematika di NTB

Tim Pengembang Modul ELPSA merupakan salah satu komponen dalam proyek GPFD yang dibentuk secara resmi pada akhir Januari 2015. Formasi inti (Core Team) beranggotakan 12 orang dari berbagai latar belakang profesi, diantaranya 6 staf pengajar pendidikan Matematika IKIP Mataram, 2 guru matematika SMP perwakilan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DIKPORA), 2 staf WIDYAISWARA LPMP NTB, dan 2 orang perwakilan KEMENAG. Selain itu, 6 orang staf pengajar Pendidikan Matematika IKIP Mataram juga turut bergabung untuk mendukung kinerja Core Team. Beberapa pihak memberi kami nama : The Dream Team. Ini menakjubkan, sekaligus agak mengerikan. Karena di balik nama itu, tersimpan banyak ekspektasi yang harus dikelola dan diwujudkan. Tidak ada pilihan selain mulai berkarya dan membuktikan bahwa ekspektasi mereka tak akan menguap percuma.

Singkatnya, pada hari itu, kami bersepuluh dinikahkan dengan sekeranjang tugas yang baru saja 5 hari kami pelajari. We’re now married, to our work. Ada secercah kebanggaan. Ada pula genangan beban yang belum kami ketahui kapan mereka akan surut.

Namun, di sisi lain, kami merasa beruntung karena berkesempatan untuk belajar menaruh perhatian pada poin-poin kritis pembelajaran matematika, mempelajari data faktual mengenai proses pembelajaran Matematika di Indonesia, beberapa miskonsepsi matematika yang teridentifikasi sering terjadi di kelas, ide-ide pengajaran kreatif yang dapat menjadi pilihan untuk diterapkan, serta problematika klasik yang dihadapi guru matematika. Semua pengetahuan itu diharapkan dapat bermuara pada terbentuknya modul pembelajaran matematika yang kaya, kreatif, dan berbobot.

Unit , Indikator, RPP dan Aktivitas Pembelajaran

Perancangan Modul diawali dengan mengeksplorasi bahan untuk menghasilkan konstruksi Unit dan RPP yang sejalan dengan panduan kurikulum dan bernafaskan ELPSA. Produk ini akan dibagi dan didiskusikan bersama 40 guru terpilih dari seluruh penjuru NTB, sehingga nantinya, pada waktu yang ditentukan, para guru ini dapat menjadi ELPSA Leading Teachers dan mampu menularkan pengetahuan mereka pada guru-guru lainnya. Ini jelas bukan perkara mudah. Khususnya bagi kami yang berlatar belakang dosen perguruan tinggi yang cenderung lebih akrab dengan dunia teoritis dan normatif. Lika-liku permasalahan belajar-mengajar di lapangan (sekolah) tentu belum kami pahami dengan fasih dan baik. Pada kondisi seperti itu, tim ini sangat terbantu oleh keberadaan personil dari LPMP, DIKPORA, dan KEMENAG yang telah banyak memberikan kontribusi berarti dalam tataran praktis dan tinjauan kebijakan.

Pada tahun pertama Proyek GPFD, ada sembilan topik Matematika SMP yang disepakati untuk dikembangkan dalam bentuk modul, yaitu : Bilangan Bulat, Pecahan, Bentuk Aljabar, Persamaan Linear Satu Variabel, Garis dan Sudut, Segitiga, Himpunan, Peluang, dan Pola Bilangan. Setiap topik dikembangkan oleh 2 orang melalui proses diskusi rutin, studi literatur, dan eksplorasi terhadap beberapa sumber belajar matematika yang telah digunakan. Beberapa dokumen kurikulum juga tercatat telah dibedah dan dianalisis guna mendapatkan rumusan kompetensi dasar dan indikator yang tepat dan terpadu. Sekilas tampak sederhana. Namun perkiraan kami agak meleset. Core team tidak dibentuk untuk ‘menyalin’ sesuatu yang sudah ada dan telah digunakan secara turun-temurun. Sebaliknya, Core team dibentuk dengan harapan besar : Terjadinya transformasi pembelajaran Matematika SMP. Rancangan aktivitas pembelajaran yang kreatif, terbuka dan out of the box merupakan salah satu ciri yang harus dimunculkan pada Lesson Plan setiap topik. Sebelumnya, indikator kompentensi dasar mulai dirumuskan dengan penuh pertimbangan dan pemikiran yang matang, tanpa bergantung sepenuhnya pada indikator yang selama ini beredar luas dan tidak pula bergantung pada struktur kurikulum A atau B. Selain itu, core team juga harus belajar menakar komposisi dan urutan yang tepat untuk setiap komponen E,L,P,S, dan A serta pembubuhan catatan pengajaran yang eksplisit dan detil, yang dengan kata lain, semua itu memerlukan penguasaan konten yang mutlak, tanpa syarat.

Kegiatan Diskusi Rutin Tim Pengembang Modul

Kegiatan Diskusi Rutin Tim Pengembang Modul

Percayalah, itu semua tak semudah membalik telapak tangan. Setiap minggu kami rajin berargumen satu sama lain, saling memberikan ide-ide pengajaran yang dianggap baik dan inovatif, menjamah kembali konsep-konsep dasar sederhana pada setiap topik yang sempat sedikit luntur dan tertindih oleh hiruk-pikuk kesibukan profesi kami masing-masing. Kami seperti kembali menjadi seorang mahasiswa yang sedang menulis tesis yang mau tidak mau harus kembali terbiasa untuk dikoreksi, dikritisi, dikomentari dan membongkar tulisan dalam sehari dan merangkainya kembali selama berhari-hari. Sejak saat itu kami semakin percaya, bahwa memulai sesuatu selalu menjadi bagian paling canggung, rumit, dan penuh kebimbangan serta kegamangan. Saat itu kami memasuki masa dimana bunga tidur kami pun dihiasi oleh ELPSA dan segala kelengkapannya. Kami mulai menjadi ‘pertapa’ yang entah kapan dianggap pantas dan diijinkan keluar dari gua.

Saat ini, setelah 1 tahun proyek GPFD berjalan kami belum juga mendekati kata sempurna. Kami masih gemar membongkar-pasang hasil kerja kami. Kesalahan masih tercecer disana-sini. Ada masa dimana kami tidak memiliki ide apapun untuk ditulis. Ada waktu dimana kami merasa gemas dengan produk kami sendiri. Ada saat dimana kami duduk di depan komputer berjam-jam, tanpa menghasilkan apapun. Namun di balik semua itu, selalu ada pelajaran berharga yang kami peroleh. Kami mendapatkan wawasan/ilmu bernilai mengenai pentingnya penyusunan RPP yang jelas dan rinci bagi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di kelas; kami menyadari pentingnya penyusunan aktivitas dan pertanyaan-pertanyaan pembelajaran yang kreatif, terbuka  dan berbobot, untuk menumbuhkan daya nalar dan pola pikir matematis siswa; kami memperoleh masukan-masukan berarti mengenai pentingnya keterpaduan antara kurikulum, kompetensi dasar dan indikator dalam penyusunan RPP; kami juga mendapatkan informasi berharga mengenai komposisi jam pelajaran pada semua topik di Matematika SMP dan menemukan poin-poin penting/kritis yang dapat dijadikan bahan pemikiran lebih lanjut; kami belajar untuk berpikir out of the box dan mulai belajar untuk meninggalkan teknik-teknik konvensional dalam pembelajaran matematika; kami belajar untuk menuangkan ide-ide kreatif dalam bentuk tulisan; kami pun mendapatkan pelajaran berharga dalam memadukan setiap komponen ELPSA, mengasah kepekaan dan keterampilan untuk mengekplorasi konten pada setiap topik yang diasuh; kami mendapatkan pengalaman berharga dalam proses pendampingan Leading Teachers, karena melalui pengalaman tersebut kami dapat mengidentifikasi fakta yang terjadi di lapangan, tentang kendala guru dan siswa, serta tentang keterbatasan sumber belajar yang dimiliki para guru dan kami belajar mengolaborasikan idealisme dan realita yang terjadi pada pembelajaran matematika di NTB.

Kami pun tidak pernah sendirian dalam mengawal proses pengembangan modul. Selalu ada pihak-pihak yang tidak pernah lelah merangkul pundak dan memapah langkah kami. Selalu saja ada mereka yang senantiasa bersabar melayani pertanyaan-pertanyaan, bahkan turun tangan membantu merangkai keping-keping pekerjaan  yang belum selesai. Ada cita-cita mulia yang diniatkan untuk kemajuan dan perbaikan pembelajaran Matematika NTB, dan kami yakin kita semua sedang menuju ke arah yang sama.

Salam ELPSA.

-IPK-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*